Merawat Toleransi dengan Sekolah Pengelolaan Keberagaman

0
59

PONTIANAK – Jaringan Pontianak Bhineka dan Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (CRCS-UGM) belum lama menggelar diskusi literasi bernama Sekolah Pengelolaan Keberagaman (SPK). Kegiatan ini diselenggarakan dengan melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama Pontianak serta paguyuban dan komunitas di kota ini.

“Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan wawasan, ketrampilan dan kemampuan dan menguatkan jaringan dalam membangun, mengelola dan mengadvokasi isu keberagaman di Kota Pontianak,” Jelas Ketua Yayasan SAKA, Sri Wartati.

Jaringan Pontianak Bhinneka terdiri dari Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA), Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK), Mitra Sekolah Masyarakat (MISEM), Satu dalam Keberagaman (SADAP) Indonesia, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK).

Akademisi Syarifah Ema Rahmaniah, mengungkapkan, literasi keberagaman dalam pemberitaan sudah cukup baik tetapi realisasi di lapangan masih harus diterapkan dengan kerja keras bersama.

“Berkaca dalam kasus Gafatar, seharusnya hal itu tidak harus terjadi jika semua pihak mencari akar masalah dan pencegahan dalam meredam saat isu konflik menjelar di masyarakat,” katanya. Sekarang, kata dia, bagaimana memperkokoh keberagaman, memperkuat literasi dan mengedepankan solusi damai.

Ketua FKUB Kota Pontianak, Abdul Syukur, mengungkapkan, saat ini di Kalbar tidak ada konflik. Kondisi ini harus dijaga agar percikan yang bisa berujung konfik bisa dicegah. Pendekatan dengan berbagai diskusi dan kegiatan bersama lintas komunitas harus terus dilakukan dan dirawat.

Dalam kegiatan itu, banyak ide dan gagasan terkait resolusi konflik. Para peserta SPK menuangkan masukan hingga solusi menghadapi konflik. Terpenting ide terbaik adalah bagaimana mencegah konflik bisa terjadi dan berulang.

Rizal Almuthar, dari Kepala Kesatuan Bangsa dan Sosial Politik Kota Pontianak, mengatakan, keragaman merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara. Keberagaman dibaratkan sebuah pelangi, penuh warga dan corak ragam yang saling melengkapi. Begitu juga dengan keragaman. “Ini menjadi model yang harus diterima dan dirawat. Hal tersebut menjadi nilai positif untuk menciptakan iklim aman dan aman,” katanya.

Saiman dari Walubi, menuturkan, saat terjadi konflik pastinya tidak diinginkan semua orang. Ada orang yang berusaha menyelesaikan konflik di Kalbar. Namun, faktanya penyelesaian kasus belum terselesaikan dengan tuntas.

Herkulanus perwakilan komunitas Dayak merasa semua pihak memiliki tanggung jawab dalam menjaga kemajemukan. Hal ini, katanya sudah menjadi bagian dari bangsa ini. Pilar bangsa, Bhineka Tunggal Ika paling penting untuk dijaga, diresapi dan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)