Kapal Kargo Terbakar Saat Bersandar di Dermaga Pontianak

0
29
KEBAKARAN KAPAL:Kapal Motor Lintas Bahari 8 terbakar saat bersandar di Dermaga Gudang Mataso Jalan Komyos Sudarso, Pontianak, Kalbar Selasa (22/5). HARYADI/PONTIANAKPOST

 

PONTIANAK – Kapal Motor (KM) Lintas Bahari 8 yang bersandar di Dermaga Gudang Mataso, Jalan Kom Yos Sudarso, Kecamatan Pontianak Barat terbakar, Selasa (22/5) sore. Tak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Sementara untuk kerugian materi, sampai saat ini masih dihitung.

Pihak kepolisian juga masih melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab kebakaran. Dari pantauan Pontianak Post, kepulan asap hitam keluar dari bagian tengah kapal.

Puluhan petugas pemadam kebakaran swasta Kota Pontianak dan kapal pemadam milik Pelindo II berusaha keras memadamkan api. Petugas dari Kapolsek Pontianak Barat beserta anggota Danramil, Anggota KP3L juga ikut dikerahkan.

Di lokasi kejadian, Jekitio, salah satu anggota Pemadam Kebakaran Panca Bhakti mengatakan, upaya pemadaman sempat menemukan kendala. Sebab, yang terbakar adalah bagian dalam palka sehingga petugas kesulitan untuk masuk mendekati titik api.

“Dari keterangan kawan yang masuk ke dalam, titik apinya tak terlalu besar. Asap pekat hitam itu berasal dari material yang terbakar,” katanya. Petugas mesti berhati-hati karena kepulan asap yang tebal membuat sulit bernafas. Karena itu, dalam upaya pemadaman api ini, petugas menggunakan alat bantu napas.

Jekitio juga menyebutkan, saat berusaha memadamkan api, pihaknya langsung mencari kapten kapal guna meminta informasi tentang isi barang dalam kapal. Dari informasi kapten, kapal kargo tersebut bermuatan semen dan styrofoam. Kebakaran terjadi sekitar pukul 16.00 dan api baru berhasil dipadamkan sekira pukul 17.30.

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Pontianak Barat, Kompol Bermawis mengaku belum dapat memastikan sumber api karena masih dalam penyelidikan. Berdasarkan dugaan sementara, sumber api berasal dari kamar mesin. “Belum dapat dipastikan dari mana asalnya. Keterangan lebih lanjut nanti kita informasikan,” sebutnya.

Adapun muatan kapal, kata Bermawis, yakni semen dan barang-barang kelontong. Untuk total kerugian, sejauh ini belum bisa ditaksir dan anggotanya berserta KP3L masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kapolsek KP3L, AKP Primas D Maestro, menjelaskan kapal yang terbakar adalah KM Lintas Bahari 8 milik PT Mutiara Nasional Line. Kebakaran pertama kali diketahui oleh ABK (Anak Buah Japal) di Dermaga Mataso.

Api diperkirakan berasal dari kamar mesin. Pada saat itu mesin kapal dalam keadaan hidup. Kapal yang datang dari Jakarta ini sudah bersandar selama dua hari di Dermaga Mataso karena sedang bongkar muat. Kapal tersebut dinakhodai Cap Asun dengan jumlah ABK sebanyak 18 orang. Selama bekerja, seluruh ABK ini tinggal di dalam kapal.

“Proses pemadaman sampai api benar-benar padam kurang lebih sekitar sejam. Dalam pemadaman dibantu oleh beberapa yayasan damkar swasta dan dari KM KPLP,” katanya.

Setelah pemadaman, pihaknya mengamankan tempat kejadian sebagai langkah antisipasi tindakan pencurian. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Polsek Barat, Polair, KPLP serta instansi terkait dalam menangani kasus ini.

Perlu Tim Khusus Pantau Kapal

Dihubungi terpisah, Anggota Komisi B, DPRD Pontianak, Herman Hofi Munawar memandang kejadian terbakarnya kapal ini merupakan kelalaian dari Syahbandar.

“Menurut saya fungsi dan peran Syahbandar harus diperkuat. Apalagi ini menjelang hari raya, pastinya arus orang dan barang juga meningkat. Syahbandar harus betul-betul melakukan pengecekan tiap kapal yang berlayar dan berlabuh,” tegasnya Selasa malam.

Bila perlu, kata Herman, Syahbandar membentuk tim khusus untuk mengecek kapal-kapal yang berlabuh di perairan Sungai Kapuas. Sebelum kejadian kebakaran kapal ini, kata dia, sudah beberapa kali terjadi musibah di kapal. Meski tak ada korban jiwa, menurutnya peristiwa ini tetap harus menjadi perhatian semua pihak.

Dalam aturan perundangan, kata Herman, perusahaan swasta memang diberikan kewenangan untuk membuat dermaga sendiri. Namun kenyataannya, saat ini banyak dermaga swasta yang dianggap tidak jelas. “Kewenangan perizinannya ada di pemprov,” ungkapnya.

Ketika izin didapat, seharusnya segala fasilitas harus disiapkan, termasuk penempatan petugas kepolisian dan Bea Cukai sebagai antisipasi pengamanan kapal yang melanggar aturan. Dalam hal ini, ia menganggap pemerintah telah lalai.

“Mestinya harus jadi perhatian, utamanya pengkajian pelabuhan untuk kepentingan sendiri,” tegasnya. Menyikapi masalah ini, komisinya akan melakukan evaluasi. Pihaknya akan memantau kondisi dermaga dan pelabuhan di sepanjang Sungai Kapuas serta mengecek perizinannya. Ia tak mau ada dermaga yang tidak memenuhi standar tetapi tetap diberikan izin oleh yang berwenang.(iza-pontianakpost.co.id)