HOTEL DI PONTIANAK, ANTARA BISNIS DAN WAWASAN LINGKUNGAN

0
30

Prolog

Pernahkan kita pikirkan, berapa banyak air yang diperlukan untuk mandi berendam dalam bath tub, menyiram taman hotel agar indah, mencuci piring, gelas serta mengepel lantai kamar, restoran dan ruang lobby hotel. Berapa banyak kebutuhan air yang diperlukan untuk memberikan kenyamanan bagi para tamu yang sudah membayar mahal.

Dan sesudah itu, berapa banyak limbah yang dihasilkandari aktifitas tersebut yang dibuang ke lingkungan tanpa ada responsibilitas yang jelas ?   Bisakah kita maknai bersama, bahwa ancaman  berkurangnya sumber air yang ada, dan parit-parit di sekitarnya yang sering mengalami pencemaran dan kekeringan, akan kita alami di masa mendatang ?

Oleh : Agus Sri Mulyono

Pengantar

Industri  pariwisata yang  berkembang pesat di Pontianak dari tahun ke tahun kini mulai berdampak pada tekanan  lingkungan yang semakin besar.   Meningkatnya jumlah pengunjung yang datang  akan berbanding linier dengan peluang membangun hotel dan tempat peristirahatan lainnya, atau kegiatan renovasi hotel dengan segala kebutuhan kenyamanan bagi pengunjungnya.

Kita bisa lihat di Jalan A. Yani akan segera terealisasi hotel yang baru dengan pelayanan dan pemenuhan kebutuhan kenyamanan penghuninya, di Jalan Gajah Mada yang merupakan jantung perekonomian  Kota Pontianak  telah berdiri  beberapa hotel berbintang, bahkan hotel yang telah adapun tidak ketinggalan melakukan renovasi untuk berlomba memberikan pelayanan yang terbaik  bagi pengunjung yang telah membayar mahal.   Hotel sebagai institusi jasa yang menjual kenyamanan kiranya mutlak  memperhatikan masalah kebersihan lingkungan.   Bisa kita amati bersama apabila kita memasuki hotel-hotel berbintang seperti  Hotel Mahkota, Kapuas Palace, Hotel Gajah Mada, Hotel Kini,  dan Hotel Santika misalnya, kebersihan lingkungan merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.  Tanpa disadari atau tidak, aktifitas  bidang pariwisata tersebut membutuhkan media untuk memfasilitasi tujuan mendapatkan kebersihan lingkungannya, yaitu diperlukannya air.  Semakin tinggi  status hotel yang dimiliki kiranya berbanding linier dengan kebutuhan air yang diperlukan setiap harinya.

Untuk memenuhi kebutuhan airnya hotel-hotel di Pontianak khususnya menggunakan air tanah melalui metode pemompaan dari sumur-sumur dalam dan sumber air yang ada.

Ironisnya, lokasi hotel berbintang yang ada, diantaranya berdekatan dengan wilayah pemukiman masyarakat dan daerah resapan air.   Akibatnya persoalan kuantitas air di sumur-sumur dan parit di sekitarnya lambat laun akan terganggu.

Persoalan yang tidak kalah pentingnya adalah kegiatan  jasa perhotelan yang ada, belum memiliki instalasi pengolahan limbah yang memadai untuk memerima beban optimalnya.

Untuk urusan limbah cairnya, karena mempunyai karkteristik yang sama dengan limbah rumah tangga umumnya, maka hanya dibuatkan septik tank, dan sumur resapan, tanpa ada dimensi yang jelas.

Problem Lingkungan Dan Gambaran Industri Perhotelan  Di Pontianak

Tidak mampunya   pemerintah daerah untuk bertindak tegas  terhadap hotel-hotel yang bermasalah di Kota Pontianak dengan lingkungan dapat diidentifikasi, diantaranya :

  • Belum adanya produk hukum yang kuat dalam bentuk Perda yang mengatur lebih ketat mengenai perijinan hingga tanggungjawab terhadap limbah yang dihasilkan.  Di samping itu, law enforcement terhadap produk hukum lingkungan yang telah ada masih sangat lemah.
  • Adanya kepentingan antara propinsi dengan kabupaten/kota, mengenai ijin operasional hotel yang hingga kini masih terus dibicarakan. Ijin operasional hotel saat ini dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata Propinsi Kalimantan Barat , selanjutnya wilayah kegiatannya berada di kabupaten/kota. Apabila tidak ada koordinasi yang jelas, akan menimbulkan duplikasi kegiatan yang berujung pada inefisiensi dalam penganggarannya.
  • Kesadaran lingkungan pelaku industri perhotelan di Pontianak  yang masih rendah, sehingga internalisasi lingkungan terhadap kegiatan perhotelan saat ini kurang mendapatkan perhatian serius.   Hal ini bisa diperlihatkan dengan betapa sulitnya mencari outlet pembuangan limbah pada kegiatan perhotelan.   Dapat dipastikan bahwa kesulitan dalam menemukan saluran pembuangan limbah hotel mengindikasikan bahwa persoalan lingkungan khsusunya limbah pasti tidak mendapatkan porsi dalam manajemen pengelolaannya.
  • Realitas di lapangan, memperlihatkan bahwa beberapa hotel-hotel besar, meng-claim bahwa kegiatannya telah melakukan upaya-upaya pengelolaan terhadap dampak lingkungan yang muncul, dalam bentuk reduce, recycle dan reuse limbah cair yang dihasilkan. Namun demikian hingga saat ini, pelaku industri hotel kurang begitu terbuka membicarakan  perihal pengolahan limbahnya.   Hal tersebut menyebabkan instansi teknis terkait dan masyarakatpun  kesulitan untuk mengakses informasinya.

Kiranya hal tersebut juga terjadi di berbagai kota, dengan kuantitas dan  magnifikasi yang berbeda.

Kalau kita cermati bersama, bahwa keberadaan hotel  kelas melati dan berbintang  di Kota Pontianak sudah saatnya pihak terkait melakukan  upaya-upaya agar kesadaran industri perhotelan yang berwawasan lingkungan segera direalisasikan.

Karakteristik limbah perhotelan yang ada saat ini, dapat dikategorikan menjadi (1) limbah kamar mandi, wastafel, yang mengandung bahan kimia dari zat pembersih kloset, shampoo dan pasta gigi, (2) limbah organik sisa kegiatan dapur,  sisa kegiatan restoran, dan (3) limbah sisa pembersihan  lantai kamar, lobby, kaca, laundry, kolam renang, yang banyak mengandung pemutih pakaian, kaporit   Tanpa kita sadari jumlah ini jauh lebih banyak dari limbah rumah tangga atau domestik.

Perhitungan matematis penggunaan sumber air bersih untuk kegiatan perhotelan adalah

  • Hotel kelas melati dengan fasilitas sederhana, membutuhkan air bersih sekitar 170 liter/kamar/hari.
  • Hotel berbintang dengan fasilitas  yang istimewa membutuhkan air bersih sekitar  450 liter/kamar/hari.

Dapat kita perkirakan berapa liter air  bersih yang dipergunakan oleh hotel untuk melakukan aktifitasnya, dan berapa liter pula buangan yang dihasilkan yang tidak diolah dan langsung dikeluarkan ke parit setempat.   Era pasar global mau tidak mau harus kita terima dengan segala kelebihan dan kekurangan di berbagai lini sektor terkait.   Tidak ada perkecualian, industri perhotelan pun juga akan terseleksi, dimana publik akan melakukan fungsi kontrol secara ketat.

Peran Kontrol Publik dan Isu Green Hotel Untuk Menstimulasi Pengolahan Limbah Hotel

Isu Green School yang di-launching  oleh Tri Budiarto bersama jajarannya di Bapedalda Kalimantan Barat akhir-akhir ini kiranya patut kita maknai bersama sebagai inisiasi yang harus diikuti oleh seluruh elemen yang membutuhkan lingkungan yang dapat menjamin kehidupannya.

Berkaitan dengan persoalan lingkungan yang tidak pernah selesai hingga saat ini di Kalimantan Barat, mampukah Bapedalda melakukan terobosan kembali untuk mensosialisasikan Green Hotel  di Pontianak ?.   Dapatkah kita tumbuhkan kepada masyarakat pengguna hotel yang ada, untuk menggunakan jasa perhotelan tidak hanya pelayanan hunian  yang berbintang saja, melainkan atribut yang menyertai hotel yang bersangkutan.   Manakala publik telah mampu menjalankan fungsi kontrolnya, maka atribut green hotel  atau hotel yang berwawasan lingkungan dapat  dikondisikan sebagai daya tarik  bagi publik yang akan menggunakannya.  Perhatian publik terhadap hotel yang berwawasan lingkungan  dengan tanggungjawab mengolah  dan mendaur ulang limbahnya, akan berpengaruh pada keputusan menggunakan hotel yang bersangkutan.   Kiranya ada kebanggaan apabila ada kelompok-kelompok masyarakat yang menggunakan hotel yang mempunya label ‘green hotel’.

Fenomena  yang menarik di Pontianak, dimana hotel tidak hanya sebagai tempat hunian sementara, melainkan juga sebagai tempat meeting, pertemuan  dan seminar ilmiah, pelatihan dan kegiatan lainnya, baik instansi  pemerintah maupun swasta.   Terbatasnya meeting room dan tempat pelatihan yang layak dan nyaman di luar hotel, membuat fasilitas meeting room hotel menjadi pilihan.   Bahkan seminar-seminar dengan topik lingkungan yang dilakukan oleh institusi  lingkungan dan organisasi-organisasi  lingkungan di Kalimantan Barat. Sering dilakukan di hotel-hotel yang populer di Pontianak.

Dapatkah Institusi lingkungan hidup setempat melakukan inisisasi dan menentukan pilihan sebagai langkah politis untuk menggunakan  hotel yang berwawasan lingkungan dengan atribut ‘green hotel’ ,  sebagai tempat untuk membahas dan menyelesaikan persoalan-persoalan lingkungan yang dihadapi.

Kalau ‘green school’ dapat kita laksanakan sebagai suatu budaya dan perilaku kita, mengapa kita tidak berani untuk mengatakan ya untuk ‘green hotel’ di Pontianak ?

Even-even dan kegiatan lingkungan yang berskala nasional yang sering dilakukan di Pontianak dan diliput oleh media massa, kiranya merupakan media yang tepat untuk membangun opini publik.   Exposed kegiatan oleh media masa, dapat membantu memperkenalkan hotel-hotel yang  beratribut ‘green hotel’ tersebut..    Apalagi jangkauan media masa saat ini sudah tidak terbatas, sehingga pasar nasional dan luar negeripun dengan mudah  dapat mengakses informasi tentang hotel-hotel tersebut.

Hal tersebut selanjutnya, akan membuat pihak manajemen hotel untuk meng-improve dan menyempurnakan intalasi pengolahan limbahnya, dan bagi yang belum ada akan melakukan upaya-upaya konkrit sesegera mungkin.

Implikasi

Beberapa hal yang dapat  kita tarik  dan maknai dari munculnya persoalan lingkungan kegiatan perhotelan di Pontianak khususnya  antara lain :

  • Pengelolaan limbah kegiatan perhotelan di Pontianak sudah saatnya dilakukan oleh pelaku industri perhotelan, dengan terus melakukan ‘continuousimprovement’ sehingga dampak negatif terhadap lingkungan dapat dikurangi  seminimal mungkin.
  • Pemerintah perlu melakukan stimulasi kepada para pelaku industri perhotelan, agar lebih patuh terhadap hukum lingkungan, dengan terus melakukan pembinaan, monitoring dan pemantauan, yang berkoordinasi dengan sektor terkait.
  • Perlunya konsep ‘Reward and Punishment’ perlu dilakukan untuk memotivasi  para pelaku industri perhotelan, agar secara bertahap melakukan pengaturan dan pengelolaan hotelnya sehingga mampu mengarah  pada hotel yang berwawasan lingkungan.
  • Munculnya konsep dan atribut ‘green hotel’ bagi hotel-hotel yang mampu melakukan pengelolaan lingkungan dengan tepat dan berkelanjutan, diharapkan mampu mendorong percepatan perbaikan pelayanan bidang perhotelan khususnya dalam pengelolaan lingkungan. Alasan inilah yang membuat para pengguna jasa berani membayar mahal untuk jasa pelayanan yang standar pada umunya.